Sabtu, 22 Februari 2014

Antara Hidup dan Mati

Operasi itu merupakan operasi yg pertama kali sepanjang perjalanan hidupku sampai berusia 19 th, insyaAllah dan mudah2an Allah mengabulkan untuk yg terakhir kalinya. Kamis, 20 Februari 2014, suatu hari yang mengantarkanku pada ketidakpastian yang bisa membuat orang2 di sekelilingku bersedih hati, kematian.

Aku merasakan bagaimana Allah mematikanku dalam tidur semuku lewat jarum suntikan bius. Sebelum disuntik aku membaca surat Al-Fatihah. Terbesit dalam ingatanku, kenapa aku tidak sempat melafalkan syahadat dan Laa illa ha illallah. Bagaimana jika tidur semuku itu adalah tidur selama2nya untukku. Astaghfirullah ampuni aku Ya Rabb..

Begitu aku bisa membuka kedua mataku, menatap kembali dunia ini, ku bersyukur. Allah masih mengijinkanku menapaki kehidupan dunia. Ini tandanya tugasku belum selesai, masih banyak hal yang harus aku lakukan yakni beribadah dan menebar kemanfaatan. Sesuai dengan cita2ku, jadi orang yang bermanfaat untuk oranglain.

Aku membayangkan bagaimana jika aku tidak bisa membuka mata lagi. Aku belum punya cukup bekal untuk kehidupanku di akhirat. Diri ini masih penuh dengan banyak dosa. Dosa, dosa, dosa di mana2.

Bagaimana jika aku ditanya Allah, usia mudaku aku gunakan untuk apa? Betapa malunya diri ini yang belum bisa memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk hal2 yang jauh bermanfaat.

Lantas ke manakah akhir hidupku?

Allah.. Ampuni aku atas segala kesalahanku.
Jadikan sisa umurku ini berkah, menjadi bermanfaat untuk oranglain.
Mudahkanlah langkah hamba dalam menggapai ridho-MU.
Tuntunlah hamba agar hamba bisa jadi anak sholihah untuk kedua orangtua hamba.
Betapa orangtuaku bersusah payah untukku, tapi aku nakal ya Allah. Tegur aku jika aku lalai dan melenceng dari jalan-MU ya Rabb..
Jauhkanlah kami dari sisa kubur, azab Jahannam, fitnah Dajjal, dan fitnah dunia akhirat.
Matikanlah kami dalam husnul khotimah. Aamiin aamiin ya Rabbal alamiin..

Kamis, 30 Januari 2014

Berotak Jerman Berhati Mekkah

Ingat film romantis yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari? Film yang selain menceritakan kisah sepasang suami istri juga berceritakan perjuangan seorang anak bangsa. Yap, apa lagi kalau bukan Habibie-Ainun :3



Seorang ilmuwan cerdas dan sholih yang cinta banget sama tanah air. Emm.. siapa yang gak suka dengannya? Pak Habibie.. Presiden ke-3 Indonesia ini sungguh luar biasa. Sosok suami idaman banget *eh :D

Dari dulu, entah sejak kapan, aku udah ngefans sama beliau. Dulu sebelum ngefans banget, cuma sekedar tahu sekilas sosok beliau yang katanya emang pinter bangeeet. Setelah Ibu Ainun meninggal dunia, kalau gak salah pas aku SMA kelas 1, aku mulai menaruh hati padanya *eits bukan maksud menggantikan Ibu Ainun ya, kagaaak* Sampai aku cerita ke mama. Berhubung waktu itu ada nenek di samping mama, nenek ikutan nimbruk. Nenek bilang istrinya Pak Habibie tu dokter anak. Mendengar kisah itu, aku berpikir, kok bisa samaan ya. Cita2ku juga pengen jadi dokter anak. Hanya saja takdirku bukan di UI tapi di UNDIP, alhamdulillah..

Nah, sejak itu aku pengen punya suami seperti eyang Indonesia yang supeeeer paket lengkap itu hihi, maksudnya Pak Habibie :3



Karenanya, aku jadi sering kepo tentang beliau. Sosok Pak Habibie tak diragukan lagi, berotak Jerman dan berhati Mekkah, subhanallah lengkap kan. Sayangnya, keberadaan beliau tampaknya gak diterima baik di Indonesia. Gimana tidak, susah payah beliau menimba ilmu jauh2 ke Jerman, setelah berhasil kembali ke Indonesia bikin pesawat N-250, bikin Indonesia maju, tapi malah ditolak. Eh, dilengserkan, sampai akhirnya beliau balik lagi ke Jerman.

Tentu udah nonton film Habibie-Ainun dong? Nangis banget pas scene Pak Habibie minta maaf ke Ibu Ainun atas waktu2 yang sudah dihabiskannya demi Indonesia dan menelantarkan anak istrinya, melihat pesawat bikinannya didiamkan begitu saja bak rongsokan. duuuuuh :"(

 Semoga para Habibie muda Indonesia yang berniat dan bertekad sama seperti beliau dimudahkan Allah. Tidak bernasib sama seperti beliau. Semoga bisa diterima Indonesia, memajukan bangsa dan negara ini, membawa Indonesia ke penjuru dunia. Aamiin ya Rabb..

Semangat para generasi penerus bangsa, Habibie muda. Kita bangun kembali negeri ini ^^

Kamis, 16 Januari 2014

Jodoh, Siapa yang Tahu?

Sesuai dengan hakikatnya, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Gak ada yang sendirian rasanya.
Tentu dilihat dari judulnya sudah menarik dong hehe

Yak, jodoh.. Siapa yang tahu tentang jodoh kita, siapa dia? Siapa yang bisa meramalkan akan berjodoh dengan siapa yang diinginkannya? Tentu aku rasa gak ada ya :D

Memang setiap orang entah dia laki-laki atau perempuan pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Kalau kata temen2 aktivis sih "Virus Merah Jambu". Nah, biasanya bagi para aktivis yang serius cuma bisa nahan sih. Istilahnya "Mencintai dalam Diam"

Dari rasa itu tentu kita punya sosok jodoh impian dong. Sosok idaman tiap orang juga berbeda-beda. Misalnya kalo aktivis akhwat nih, pengen punya suami seperti Rasulullah.

Tapi.. tapiiiii... tunggu dulu hihi

Kenapa????

Segala sesuatu yang kita inginkan belum tentu yang terbaik buat kita. Inget dong surah nya di Al-Baqarah.

Terkadang kita menginginkan sosok yang begitu sempurna tanpa kita berkaca terlebih dahulu apakah kita sempurna dan pantas mendapatkan yang sempurna.

Ada yang sejak lama pacaran ataupun kenal dekat dengan 'si dia' dan sangat berharap ingin jadi pendamping hidupnya. Namun, kenyataan amatlah berbeda. Udah lama pacaran, ujung-ujungnya putus, gak jadi nikah. Baru aja kenal, taaruf an, eh cocok langsung nikah dan langgeng.

Gak ada yang bisa jamin urusan jodoh itu bagaimana endingnya...

Pengalaman saya sih ini, hehe *duh jadi malu*

Dari dulu saya ngefans sama Pak Habibie, ilmuwan Indonesia yang super segalanya bagiku. Apalagi setelah kemunculan film yang berjudul Habibie-Ainun, makin ngefans aja. Gara2 itu, pengen punya suami kayak beliau, dari segi mana saja.

Orangtua saya tahu dari dulu kalau saya ngefans berat dengan beliau. Orangtua merestui misalkan dapet yang seperti beliau.

Tapi, sekaraaaang...

Devi sudah dewasa haha. Devi sudah bisa realistis. Aku udah mikir, gak mungkin ada orang yang begitu miripnya dengan beliau. Karena inget apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita butuhkan, mindset itu mulai berubah. Pintu hati pun mulai membuka untuk siapa saja ikhwan pilihan Allah yang terbaik untukku nanti.

Lah ini sih bukan pengalaman, tapi curhat *ups

Kesimpulannya..

Jangan tutup hati kita pada seorang yang menjadi idaman kita karena kita belum tahu apakah sosok itu jodoh kita apa bukan. Di dunia ini masih banyak ikhwan yang ternyata jauh lebih baik daripada sosok dambaan itu. Kalo ternyata dapet yang lebih baik, kenapa tidak. Allah tahu yang terbaik untuk hamba-NYA. Selagi masih banyak waktu untuk mempersiapkan diri sekaligus memperbaiki diri, tak ada salahnya untuk membuka hati untuk mereka yang lebih berhak menjadi pemimpin kita ^^,

Orang yang baik untuk orang yang baik pula.
Hal yang terpenting adalah perbaikan diri selagi menunggunya.
Karena, jodoh tak ada yang tahu :D

Minggu, 12 Januari 2014

Amanah Besar Intra Kampus vs Extra Kampus

Ketika kita sudah menapaki lika-liku kehidupan yang banyak, kita akan mendapat banyak pula pengalaman hidup.
Ketika kita sudah belajar mengenai banyak hal, meski kita merasa kurang, kita akan mendapat amanah yang besar.

Amanah..
Layaknya sifat Rasulullah yang berarti dapat dipercaya.
Namun, dalam konteks kali ini amanah yang dimaksud semacam tugas, suatu tanggung jawab dari seseorang yang mempercayai kita.

Bercerita mengenai amanah yang besar, kali ini pengalaman saya yang akan dipilih untuk mengemban amanah itu. Amanah yang menurut saya tak sanggup saya jalankan nantinya, yg mana pada akhirnya saya tidak menerimanya.

Di saat mendengar kabar yang membuat heboh banyak orang itu, rasanya kayak ketiban duren berpuluh2 kilo. Emang sih duren enak, tapi kalo ketumpukan duren yang buaanyaaak dan gede pasti gak enak lah.

Alasan kenapa aku menolaknya adalah..... (sett dah songong banget yak, ampun ampuuun)
aku ngerasa gak pantes aja, ngerasa belum bisa memberikan yang terbaik, belum bisa mengayomi. Daaaan.. selama ini aku udah capek banget jadi kaum yang tertindas kerja paling wow (Astaghfirullah.. kok malah gini sih, tobat dev tobat)

Antara senang dan sedih sih emang. Ya banyak senangnya sih haha
Jadi bisa mengekspose ke dunia luar, dunia di mana aku bebas bersuka cita dengan pekerjaanku (duh egois banget sih kamu dev -_-)

Sesuai dengan planningku di tahun 2014 ini, aku pengen aktif nulis di Joglo Pos, syukur2 bisa tembus ke koran Semarang. Gak cuma itu, aku juga punya cita2 besar yang menurutku butuh waktu lama dan uang yang banyak. Devi harus berjuang untuk cita2 itu juga di samping harus aktif di organisasi kampus. Selain itu, aku juga harus mengembangkan keilmiahan, maksudnya ya rajin belajar juga, bikin bangga orangtua.

Banyak alasan yang mendasariku menolak amanah besar itu. Aku merasa banyak pula amanah2 besar di luar sana. Hal yang paling penting bagiku, dakwah bisa dimana aja. Gak harus dalam sebuah organisasi, tapi juga dunia luar yang lebih gede. Prinsipku, di mana pun aku, aku pengen bisa bermanfaat di banyak tempat dan kapan aja. Aku gak suka fokus di 1 tempat. Menurutku aku bisa stres kalo cuma fokus di salah satu tanpa ngembangin yang lain.

Semuanya balik lagi ke cita-cita semula.

Ulat kecil yang berubah jadi kupu-kupu nan indah. Kupu-kupu dengan warnanya yang cantik terbang kesana kesini membuat banyak orang suka dengannya.
Jika di suatu populasi kupu-kupu, banyak sekali kupu-kupu yang kita temukan. Sementara di lain tempat sangat jarang ditemukan kupu-kupu. Kenapa tidak salah satu kupu-kupu terbang ke lain tempat memberikan pesona warnanya kepada siapa saja yang menemuinya? Jauh lebih berwarna bukan?



Ibarat kupu-kupu itu lah yang mendasariku untuk menolak amanah besar intra kampus, melainkan mengambil porsi di dunia luar yang jauh membutuhkan keberadaanku. Dunia yang bagiku lebih menantang. Dunia di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dunia yang menjadikanku menjadi Devi yang seperti ini.

Selasa, 31 Desember 2013

Menangisi Negeri Ini

Diri ini menangis. Diri ini meneteskan air mata ketika kutulis lembaran ini, bagian dari buku kehidupan yang insyaAllah akan menjadi pelajaran untukku.
Bagaimana tidak kuteteskan air mata ini?
Di saat banyak orang di luar sana yang tidak punya uang untuk beli makan, menahan lapar, mendengar jerit tangis anak-anaknya yang meminta makan, bahkan sampai ada yang meninggal dunia lantaran makan nasi busuk gara-gara tidak bisa beli nasi, tetapi sebagian besar orang yang merasa punya uang banyak justru membeli terompet, petasan, dangdutan, merayakan pergantian tahun baru.
Padahal kita tahu, harga terompet, petasan, apapun yang berhubungan dengan tahun baru harganya lebih mahal daripada sebungkus nasi.
Entah kalau seperti ini siapa yang pantas disalahkan?
Entah kemana diri ini harus mengadu?
Apakah mereka yang memiliki uang lebih mau mendengar?
Mengapa tidak disedekahkan untuk mereka yang gak mampu beli makan?

Hati ini bergejolak sembari terus meneteskan air mata.
Konon negeri ini masih banyak kemiskinan. Di satu sisi, negeri ini menjunjung tinggi persatuan Indonesia.
Di manakah letak persatuan itu sekarang?
Apakah cukup hanya sebatas menyatukan pulau-pulau di Indonesia ini tanpa menyatukan warganya juga?
Sampai mana kebersamaan kita Indonesia?
Mengapa kamu rela membiarkan oranglain pergi meninggalkan Indonesia hanya karena tidak bisa makan sementara di luar sana banyak pula orang yang bisa membantu?

Bersama suara petasan yang terdengar di luar sana, hati ini menjerit, menangisi apa yang sudah terjadi di sini.
Mendengar cerita ibu tentang kenaikan harga sembako di tahun 2014, semua makin mahal. Bagaimana dengan gaji? Apa kenaikannya sebanding dengan kenaikan harga sembako?
Memang slogan "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin" itu nyata.
Sementara ada banyak orang yang meratapi apa-apa mahal, di luar sana masih banyak pula yang berpesta dan berfoya-foya, menghamburkan banyak uang untuk hal yang sebenarnya tidak esensial.

Diri ini tidak bisa berbuat apa-apa.
Hanya kepada Allah tempat ku mengadu.
Hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Indonesia.
Semoga para pejabat kaya maupun orang-orang yang berlebih hartanya bisa terbuka hatinya, mau dengan suka rela membantu saudara-saudara yang membutuhkan, tidak korupsi, menyalurkan tangan mereka untuk merealisasikan kesejahteraan Indonesia.
Semoga mereka yang membutuhkan uluran tangan kita diberikan kemudahan oleh Allah dalam mendapatkan rezeki, diberi kekuatan, dan Allah lapangkan pintu rezekinya.

Karena aku yakin, Indonesia itu satu, KITA.
Mereka adalah saudara kita.
Jika jiwa gotong royong dan saling memiliki mengakar kokoh dalam hati, kematian karena kelaparan tidak akan terjadi.

Kalau bukan kita para generasi penerus bangsa ini yang memulai, siapa lagi?
Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Indonesia butuh perubahan.
Indonesia harus wujudkan Pancasila agar tidak sebatas hitam di atas putih.

Jumat, 27 Desember 2013

Hijrahku Dimulai

Hijrah.. satu kata yang amat berarti dan berat menurutku. Satu kata yang mencerminkan perubahan ke arah yang lebih baik dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk secara perlahan tapi pasti.

Bismillah.. satu kata dalam permulaan hijrah ini terucap, terpatri dalam kalbu yang terdalam. Dengan menancapkan niat yang kokoh, memulai kata 'hijrah' ini pelan-pelan.

Siapa sih yang gak mau masuk surga? Surga yang penuh kenikmatan, penuh kebahagiaan. Bertemu dengan Rabb, Sang Pencipta. Bertemu dengan Rasulullah, keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya juga.

Siapa juga yang gak mau jadi anak sholihah yang nantinya di surga bisa berkumpul lagi dengan kedua orangtua yang amat disayanginya beserta keluarganya? Semuanya pasti ingin berkumpul lagi seperti di dunia ini dalam surga yang kekal.

Inilah alasan kenapa hijrahku dimulai..

Dari yang awalnya ngebet pacaran *eh jadi memegang prinsip antipacaran.

Jujur. Aku juga pernah ngalamin yang namanya pacaran walaupun gak seperti pacaran pada umumnya yang suka pegangan tangan, jalan bareng, gombal-gombalan. Statusnya sih pacaran, tapi komunikasi aja enggak. Ketemu sekedarnya, kalopun ketemu ngomonginnya tentang sekolah sama hobi. Pernah si dia manggil sekali dengan kata 'yang' tapi karna ngeliat aku dengan tampang yang gak suka, dia kembali manggil namaku doang. Bersyukur sih meskipun pernah pacaran masih tetap dalam koridor. Ya namanya pacaran, pernah ngalamin galau. Ini yang aku rasa pacaranku juga berdosa walau gak neko-neko.

Entah kenapa kalo ada masalah sepele bisa jadi masalah yang dirasa gede banget, biasalah cemburu anak muda hehe. Dan masalah itupun bisa bikin putus *ups. Sedih sih iya, jujur aja sampai nangis *lebay* Sejak putus itu juga gak mau lagi pacaran.

Prinsip ini di awal mungkin salah. Gak mau pacaran karna takut sakit hati lagi. Tapi aku bersyukur, sejak aku pakai hijab, hijab ini yang melindungiku dari keinginan untuk pacaran. Rasanya malu kalo deket sama lawan jenis.

Semenjak mengikuti organisasi kerohanian di SMA pun makin mengerti banyak hal tentang aturan agama, termasuk pacaran. Ternyata pacaran itu haram guys,  gak ada yang namanya pacaran islami, sekalinya pacaran ya dosa ._.

Oke. Setelah tau banyak hal tentang itu, akhirnya niat prinsip antipacaran berubah. Jrengjreng.. Sejak SMA kelas 1 udah gak mau lagi deket2 sama yang namanya pacaran. Deket sama cowok aja rasanya ogah. Dideketin cowok apalagi, no comment, ndiemin aja deh. Bukannya gimana-gimana sih ya, gatau kenapa rasanya kalo deket sama cowok tuh gampang banget kena gosip

Karena hijab lah yang menjadi tameng untuk tidak berkelakukan seperti itu. Hijab ini yang menjadi awal hijrahku dimulai :)

Selembar Impian


Lembaran mimpi ini aku tulis untuk mengingatkanku pada masa perjuanganku dalam meraih impian. Lembaran yang penuh coretan suka duka ini akan terangkai rapi dalam buku kehidupan yang nantinya akan terbuka untuk dibaca bersama dengan orang-orang tersayang, yang akan menjadi sebuah dongeng pengantar tidur untuk anak-anakku, akan menjadi bahan untuk berbagi kisah dengan suami tercinta. Asik lebay dulu nih ceritanya :Dv

            Sejak kecil tentu kita semua punya impian, cita-cita yang terus mengakar dalam hati kita haha. Sejak aku duduk di bangku SD, aku sudah punya impian melanjutkan sekolahku di SMP N 2 Klaten dan SMA di SMA N 1 Klaten. Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah terfavorit di kota tercinta ini, Klaten. Sekolah dambaan kedua orangtua yang tak pernah tersampaikan lantaran kedua orangtuaku dulu nakal katanya :v

            Alhamdulillah impian itu sudah terealisasikan. Di bangku SMA aku kembali menuliskan impian-impianku. Begitu banyak acara yang bercerita tentang mimpi aku datangi. Di setiap acara itu intinya tetap sama, TULISKAN MIMPIMU! Satu kalimat ini yang selalu aku pegang sampai saat ini dalam menggapai impian.

            Salah satu mimpiku saat di SMA, aku ingin mendapat predikat ranking 1 selama aku bersekolah di SMA itu. Yak, mimpi itu nyata! Tiga tahun predikat itu di tanganku. Selain ranking sebenarnya aku juga ingin menjadi salah satu tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) mata pelajaran kimia. Namun, harapan hanyalah harapan. Aku tidak ditakdirkan menjadi bagian dari tim yang super keren itu.

Aku ingat betul aku tulisakan mimpi setelah tamat SMA aku ingin melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran UGM/UI/UNDIP. Tulisan itu beserta mimpi-mimpiku yang lain aku tempel di lemari pakaianku, yang selalu aku lihat ketika aku akan tidur dan bangun tidur. Ya karna lemari pakaianku di kamar tepat di depan tempat tidurku hehe.

            Meskipun aku tidak diterima di UGM ataupun UI, aku tetap bersyukur bisa diterima di UNDIP. Dulu aku berpikir kalo FK UNDIP kayaknya gak terkenal, gak banyak saingan makanya aku diterima di UNDIP. Eits, ternyata prasangkaku salah. Kali ini aku sungguh bersyukur menjadi bagian dari Fakultas Kedokteran UNDIP. Gimana gak, prestasinya ternyata segudang. Bahkan, UGM, UI, Unair, dll pun kalah dengan UNDIP saat lomba IMO maupun GIMSCO. UNDIP keluar sebagai juara umum. Berkat gemblengan dosen-dosen yang luar biasa kecenya, FK UNDIP justru diminati banyak calon mahasiswa yang pengen masuk FK sekarang.

            Lanjut lagi mimpinya :D Setelah masuk di FK UNDIP, tentu punya mimpi-mimpi yang jauh lebih besar lagi dong. Semester 1 aku pengen punya IP di atas 3. Maklum masih mahasiswa baru yang masih takut kebawa suasana SMA. Alhamdulillah, IP ku justru lebih dari itu. IP pertamaku 3,32 dan tertinggi se-dosen wali. Dikit sih emang, setidaknya lebih dari 3 ^_^ Aku bersikeras ngambil semester pendek buat ningkatin IP, tapi ya gimana lagi jadi 3,47. Dosen waliku seorang dosen farmakologi bilang kalo cumlaude itu IPK > 3,51. 3,50 aja belum cumlaude katanya. Gapapa pikirku, masih semester 1 kok *ngayem2i dewe*

            Terus bermimpi.. Semester 2 IPK harus cumlaude, harus lebih dari 3,52 biar bisa jadi asisten dosen. Alhamdulillah terus dah. IPK akhirnya cumlaude pasca SP semester 2 dan yang paling bikin aku heran gimana bisa biostatistik jadi A padahal awalnya C. Emang sih saat SP aku kerjain sendiri pembahasannya, cuma kesimpulannya nyontek temen dikit gara-gara bingung ngolah kata yang enak dipakai kayak gimana. Eh temen malah dapet B. Bersyukur banget biostatistik A IPK bisa cumlaude gini. Duh, terharu.. asisten dosen di depan mata ini!

            Mimpiku jadi asisten dosen bagian kimia kedokteran, yang aku pengeni sejak semester 1 terwujud saat aku menginjak pergantian semester 3. Lagi-lagi sulit dipercaya. Mimpiku... Selain jadi asdos, aku juga pengen naruh artikel kesehatan di koran saat semester 3. Yuhuuuu.. ini pun juga nyata. Atas saran bapak, disuruh masukin di Joglo Pos. Bantuan bapak juga yang nyariin CP redaksinya. Makasih banyak bapak :3

            Dan sekarang ini sudah di perhujung semester 3, akan menginjak ke semester 4 *wish* Semoga makin baik lagi ke depannya, makin lancar dan tercapaikan impian-impian berikutnya. Aamiin ya Allah ridhoilah..
Ini beberapa mimpiku untuk tahun 2014 dan seterusnya yang aku ingat dan belum sempat tertulis nyata hehe
Bismillahirrahmanirrahim..

2014 :

-          IPK > 3,52
-          Berani memakai kerudung gede
-          Memperbaiki niat, meningkatkan amalan, lebih aktif organisasi
-          Amanah dalam organisasi intra FK (HIMAKU dan ROHISKU). KMK juga harus jalan
-          Annisa sweet’s card harus rajin dibikin + diisi amalannya
-          Nyalonin asdos biokimia atau faal
-          Harus mulai belajar bikin PKM yang super bener biar bisa maju lomba
-          Berjuang buat lomba!
-          Ngajuin beasiswa PPA
-          Mulai aktif ngedanus alias jualan (belajar jadi doctorpreneur)
-          Jadi pembicara dalam acara-acara intraorganisasi
-          Aktif nulis artikel kesehatan di Joglo Pos
-          Ngajar di Kakak Adik Asuh (Kadiksuh) Pengabdian Masyarakat
-          Lebih mendalami kuliah, nyicil belajar klinisnya juga, kalo bisa baca standar kompetensi dokter indonesia
-          Berbagi sama adek kelas semacam nentirin, itung2 belajar jadi dosen hehe
-          Dll (masih banyak dan belum kepikiran)

Itulah beberapa impian yang spesifik di tahun 2014. Tahun-tahun berikutnya, gambaran besarnya seperti ini :

-          Asisten Dosen lagi untuk tahun terakhir sebelum skripsi
-          Skripsi sukses
-          Lulus S.Ked dengan gelar cumlaude
-          Co-Ass lancar, mendalami ilmu2 buat jadi dokter beneran
-          Lulus dokter dengan gelar cumlaude
-          Jadi asisten dokter (sementara sambil nunggu internship)
-          Menikah dengan laki-laki idaman (gak harus dokter, entah penting jodoh :D)
-          Internship semoga bisa ngambil di Klaten
-          PTT lancar jaya
-          Ambil magister kesehatan masyarakat di Undip (kalo bisa sih kalo TOEFLnya kece, aamiin Ya Allah.. pengennya kayak dokter Gana S2 di Jepang)
-          Punya anak yang sholih aamiin (Fatihatul Furqon Hafizh = pembuka untuk pembeda yakni sebagai seorang hafizh kecil di keluarga)
-          Jadi dosen IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) di universitas mana aja yang penting deket suami *eaa
-          Jadi dokter di rumah sakit entah di mana aja yang penting serumah sama suami hihi
-          Ambil PPDS (spesialis anak) Sp.A di UGM
-          Punya anak yang sholihah aamiin (Zahrotul Jannah Azzahwa = bunga surga yang megah)
-          Jadi dokter anak yang muslimah
-          Tetep aktif nulis dan pembicara
-          Naik haji bersama suami dan orangtua tercinta
-          Punya rumah yang aku pengen ngedesain ada perpustakaan dalam rumah deket kolam
-          Punya klinik khusus buat anak yang ada playgroup + ada semacam kantin yang menunya dari ahli gizi
-          Punya usaha bareng suami
-          Anak-anak sholih dan sholihah, cerdas, membanggakan
-          Punya semacam yayasan atau sekolah buat anak-anak yang kurang mampu
-          Keliling Indonesia bareng keluarga besar
-          Jalan-jalan sekeluarga ke Paris, Jerman, Jepang, Mesir
-          Dan yang paling penting, jadi anak sholihah buat kedua orangtua
-          SURGA... :) ^_^